“Jangan Tunggu Pusara Baru Belajar Berbakti”

Opini1342 Dilihat

Jabarfakta.com – Cirebon – Ada satu penyesalan yang paling sering datang terlambat dalam hidup seorang anak: saat orang tua sudah tidak ada, barulah terasa betapa berharganya kehadiran mereka.

Ketika ibu masih mampu memanggil nama kita, kadang kita sibuk dengan dunia sendiri. Ketika ayah masih kuat berjalan mencari nafkah, kadang kita lupa menanyakan lelahnya. Saat mereka meminta bantuan kecil, sering kali kita menjawab dengan nada kesal, seolah keberadaan mereka adalah beban.
Padahal dahulu, merekalah yang rela mengorbankan segalanya demi anak-anaknya.

Ibu rela menahan sakit saat melahirkan, begadang ketika anak sakit, bahkan menahan lapar agar anaknya kenyang. Ayah rela banting tulang, kepanasan, kehujanan, demi memastikan keluarganya tetap hidup dengan layak.

Namun ketika usia mulai senja dan tenaga mereka melemah, tidak sedikit anak justru mulai menjauh. Ada yang merasa terlalu sibuk. Ada yang malu dengan keadaan orang tuanya. Ada pula yang hanya datang ketika membutuhkan sesuatu.
Padahal dalam Islam, berbuat baik kepada orang tua adalah kewajiban yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra: 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah perintah menyembah Allah, Allah langsung memerintahkan manusia untuk berbakti kepada orang tua. Bahkan sekadar berkata kasar pun dilarang.

Allah juga berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Serta dalam firman-Nya:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Begitu besar kedudukan orang tua hingga rasa syukur kepada mereka disejajarkan setelah syukur kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW pun bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
“Celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, namun ia tidak masuk surga karena tidak berbakti kepada keduanya.” (HR. Muslim)

Hari ini mungkin kita merasa masih punya banyak waktu. Masih sempat membahagiakan mereka nanti. Masih sempat membantu ketika sudah sukses.
Tetapi hidup tidak pernah memberi tahu kapan perpisahan datang.
Jangan tunggu kursi makan itu kosong baru merindukan nasihat ibu. Jangan tunggu nomor ayah tak lagi bisa dihubungi baru ingin pulang.

Karena setelah mereka tiada, yang tersisa hanyalah doa, kenangan, dan penyesalan.
Membantu orang tua tidak harus menunggu kaya. Kadang hal paling sederhana justru paling berarti:
menemani mereka berbincang,
membantu pekerjaan rumah,
mengantar berobat,
memberi kabar,
atau sekadar mendengarkan cerita mereka dengan tulus.
Sebab bagi orang tua, perhatian anak adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.

Maka selagi mereka masih ada: jangan pelit waktu, jangan pelit perhatian, dan jangan menunggu kehilangan baru belajar menghargai.
Karena suatu hari nanti, seorang anak akan sadar bahwa tidak ada cinta yang paling tulus selain cinta orang tua kepada anaknya.

Hisam